going home...

Dari depan pintu Ia menatapku, matanya berkaca-kaca saat saya mencium tangannya. Ia memelukku, juga menciumku, dan saya merasakan ada haru yang bergemuruh diantara tarikan nafasnya yang mulai lelah itu, betapa ia memelukku seperti ayah menemukan anaknya yang telah hilang bertahun-tahun.
Saya memang tak pernah bilang kalau mau pulang, saya rindu, tak pernah bertemu ayah hampir dua tahun ini. Saya rela menunda rencana tour de java dan menghabiskan cuti tahunan ini untuk pulang ke rumah...
Setiap kali saya pulang, saya selalu mencari-cari, adakah sesuatu yang berubah di rumah ini selama saya pergi? . Hhmm...rasa-rasanya tak banyak, kecuali ayah yang terlihat semakin tua, dan sebuah kursi tamu baru yang masih segar wangi toko meubel. Selebihnya yang selalu abadi adalah, sejauh apapun kami berlima pergi, selalu kan ada jalan pulang, sebab setiap kami selalu menyimpan rindu disini...

*****

Malam ini saya sudah di Makassar lagi, mulai lagi berjibaku. Saya menyenangi pekerjaan ini, meski ia membuat saya pergi terlalu jauh. Besok hari terakhir cuti, saya ingin menghabiskannya di rumah saja.
Tadi juga sempat mampir ke taman bungannya bang John, usai bertemu seorang sahabat. Seperti biasa, bang John, dia selalu menawariku bunga-bunga. Kali ini dia menawari bibit antorium gelombang cinta. Tapi saya menolaknya, nantilah bang....akan tiba saatnya jika rumah kecil itu telah saya benahi dengan baik.
Dan tentang bunga itu, saya hanya tiba-tiba ingat seseorang, yang dulu pernah bilang ke saya, bahwa dia tak begitu suka dengan antorium gelombang cinta yang ditanam istrinya, sederhana saja alasannya. Karena Ia tak menyukai cinta yang bergelombang, yang naik turunnya tergantung cuaca.....:)

Makassar, 03 Maret 2009 - 01:00

brownies...

Beberapa waktu lalu, seorang sahabat mengirimkan saya email, sebuah cerita, tentang cinta seorang Sir Thomas Stanford Raffles, seorang letnan gubernur Inggris di Pulau Jawa (1811-1816), yang mendirikan monumen kenangan bagi istrinya Lady Olivia Marianne, yang meninggal pada tahun 1814 di Kebun Raya Bogor. Ada bagian yang paling saya suka dari kisah itu...:

"........Saya hanya bisa merasakan sebegitu besarnya cinta Raffles pada perempuan itu. Barangkali cinta memang butuh aktualitas atau jejak material. Barangkali cinta butuh monumen untuk kelak diawetkan dan tak lekang oleh waktu. Saya bisa memahami kenapa ia tak menuliskan secara detail tentang cintanya pada Olivia. Mungkin ia sengaja tidak menuliskan secara utuh, tentang sejauh mana gejolak cintanya.......

........Kalaupun cinta dikisahkan, apakah kata-kata akan sanggup merangkum semua dimensi rasa yang indah dalam diri seseorang?. Saya kira tidak. Kata-kata itu terlalu miskin untuk mengisahkan cinta. Pada titik ini saya mulai mengerti, barangkali Raffles berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang sangat personal, sesuatu yang hanya bisa dimaknai secara pribadi. Bagi Raffles, cinta hanya untuk dikenang, bukan untuk dikisahkan......".

*****

Belakangan ini, orang-orang selalu memintaku bercerita tentang kenangan, kata mereka, " ceritakanlah...sekalipun ia tak utuh, meski ia hanyalah sepotong kenangan...". Bagi mereka, sepotong kenangan itu seperti brownies, selalu lezat, meski saat disajikan hanya dalam sebuah potongan kecil. Saya boleh sependapat dengan itu, hanya saja, saya sedang tak ingin membahasnya. Tentang kenangan, seberapa baik ataupun buruknya ia, biarkan saja ia menjelma menjadi doa-doa kebaikan.....

Makassar, 16 Februari 2009 - 12:00

sederhana...

Apa kabarmu? hhhmm....semoga suatu hari nanti kau singgah disini, sekalipun saya sedang tak ada. Saya mencarimu, rindu..., lama rasanya kita tak pernah bercerita, meski itu hanya untuk hal-hal yang sederhana. Tentang rencana-rencana kecil kita, seperti menikmati semangkuk bubur ayam di minggu pagi, atau menemanimu belanja saat libur kerja......
Oya, nanti...bila tiba waktunya, saya ingin mengajakmu melihat pagi, juga menemanimu melewati senja, tentu saja dengan setangkai asa yang selalu kuselipkan diantara kerudungmu...

Makassar, 14 Februari 2009 - 09:00

"hari ini valentine, saya tak pernah ingin mengajakmu merayakannya....bukankah tak pernah ada batas untuk sesuatu yang bernama kasih sayang..?"