Saya tak pernah melihat senyuman seperti itu, ia tersenyum seperti seseorang yang sakit karena menjadi orang yang terlupakan, juga karena ditinggal pergi sahabat-sahabat yang berkhianat dalam perjuangan. Wajahnya murung, meski saat bicara ia selalu berusaha bersikap secara wajar. Sinar matanya terlihat lelah, juga menyimpan kekecewaan yang teramat dalam.
Saya menaruh hormat kepada laki-laki bugis itu, terlepas dari semua penilaian berbeda dari orang-orang yang melihat sosoknya dari sisi yang lain. Tapi saya menaruh harapan besar pada gagasan-gagasannya, juga pada komitmennya pada kemandirian dan bagaimana membangun jati diri bangsa yang jauh lebih bermartabat. Bukan sebuah pemerintahan yang suka mengemis pada ketiak bangsa asing.
Setidaknya seperti itulah pilihan politik saya, dan saya menghormati mereka yang punya pilihan berbeda, sekalipun pilihan politik saya menempatkan saya pada urutan paling minor dalam kalkulasi demokrasi. Toh, Tuhan juga tidak pernah melihat kebenaran berdasarkan suara terbanyak.
Kemarin ia bilang akan pulang kampung, mengurus sekolah, masjid dan juga perdamaian. Jika proses demokrasi ini tak membawanya pada tempat yang ia inginkan. Saya pikir niat seperti itu akan jauh lebih mulia nilainya. Pulanglah pak.., kami tunggu....:)
Makassar, 9 Juli 2009 - 13.30 wita
tentang senyuman
Diposting oleh
budhie zulkifli
0
komentar
permintaan cerai
Tegar, bocah berusia empat tahun itu, terbaring lemas karena kaki kanannya baru diamputasi hingga mendekati lutut, oleh tim dokter RSUP Soedono Madiun. Sebelumnya, pada suatu siang yang sunyi di rumahnya di Mejayan Madiun Jawa Timur, tanpa sepengetahuan anggota keluarga yang lain, diam-diam Tegar di gendong ayah tirinya Puryanto, dan membawanya ke pinggiran rel kereta api.
Dibantaran rel kereta itu, Puryanto kemudian meletakkan kaki kanan bocah itu diatas rel, dan membiarkan kereta api Bangun Karta jurusan Jakarta Jombang yang lewat menggilas kaki bocah malang tersebut. Tegar, bocah itu se-tegar namanya, setelah peristiwa tragis itu, ia masih sanggup merangkak menuju rumah hingga ditolong oleh keluarganya yang lain.
Saya terhenyak membaca naskah berita Nur Salam, kontributor Madiun Jawa Timur di email korlip siang ini. Puryanto ayah tiri Tegar, melakukan tindakan biadab itu karena kesal setelah istrinya minta cerai. Arrgghh...saya tak habis pikir, ada apa dengan kita? ada apa dengan Puryanto?. Bisakah ia membayangkan bagimana sakitnya bila kaki dilindas kereta api?. Seberapa sakitkah luka hati Puryanto karena cintanya ditampik sang istri?.
Betapa sederhananya alasan Puryanto, sampai ia tega melakukan perbuatan se-keji itu, meletakkan kaki bocah empat tahun diatas rel hingga dilindas kereta api...hanya karena kesal diminta cerai sang istri?...gggrrrrr...
Makassar, 6 Juli 2009 - 14.30 wita
Diposting oleh
budhie zulkifli
0
komentar
anak-anak muda tehran
Penghujung Juli 2007, disebuah kawasan perbelanjaan di kota Tehran Republik Islam Iran, sekelompok anak muda mencegatku, saya sedikit cemas, sepertinya ada gelagat yang kurang baik. dan saya mulai menyesali kenapa harus berpisah diam-diam dari rombongan.
Tapi kecemasanku segera mereda, rupanya mereka hanya ingin tahu dari mana saya berasal, dan kenapa saya membawa kamera. Lalu dengan bahasa inggrisku yang pas-pasan saya menjelaskan, bahwa saya dari Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, saya datang untuk meliput pagelaran delegasi kebudayaan Indonesia di Tehran.
Mereka bertanya lagi, apakah saya tahu Mahmoud Ahmadinejad?. Dan saya bilang, sebagian besar orang Indonesia suka Ahmadinejad. Presiden Iran itu, Ia adalah sosok sederhana, dan simbol perlawanan bagi keangkuhan negara adidaya seperti Amerika Serikat. Saya menyimpan foto Ahmadinejad, saat ia sholat diatas trotoar jalanan, juga ketika ia tertidur pulas diatas karpet dengan sebuah selimut sederhana. Tapi tanggapan anak muda itu justru terdengar aneh bagi saya, mereka tidak menyukai Ahmadinejad.
Pada seorang teman asal Makassar yang kuliah di Iran, saya ceritakan perbincangan saya dengan anak-anak muda itu. Saya ingin penjelasan, kenapa ketika saya dan jutaan orang di Indonesia begitu kagum dengan sosok Ahmadinejad, anak-anak muda Iran itu justru membenci Ahmadinejad. Menurut temanku itu, yang tidak menyukai Ahmadinejad adalah mereka yang tidak lagi tersentuh dengan semangat revolusi Islam Iran. Banyak diantara mereka adalah kaum muda Iran yang tinggal di wilyah perkotaan.
Saya mulai mengerti. Di kota Qum, kota suci kaum Syiah di Iran, sekitar dua jam perjalanan dari ibu kota Tehran, saya melihat orang-orang bersorban dan berkerudung panjang di jalan-jalan kota. Tapi di ibu kota Tehran, anak-anak mudanya, seperti anak-anak gaul kota besar pada umumnya, yang mungkin saja merindukan sebuah kehidupan baru yang jauh lebih liberal.
*****
Dua hari ini di kabar petang, topik utamanya adalah kisruh pemilu di Iran yang diwarnai gelombang demonstrasi besar kelompok oposisi yang kalah dalam pemilu. Unjuk rasa itu menewaskan sejumlah orang dan memicu bentrokan antara pendukung Ahmadinejad dengan pendukung calon presiden yang kalah, Mirhossein Mousavi.
Mahmoud Ahmadinejad, presiden yang sederhana dan bersahaja itu memenang mutlak dalam pemilu Iran. Para pemimpin spiritual di Iran seperti Ayatollah Khomeini telah menyatakan dukungannya pada Ahamdinejad, dan mengecam barat yang dianggap bermain dibalik kekisruhan pemilu Iran. Menurut berita, para penentang Ahmadinejad adalah kaum muda Iran, yang banyak berbasis di wilayah perkotaan. Media-media barat menyebut mereka sebagai kaum reformis.
Hhmmm...saya teringat perbincangan singkatku dengan anak-anak muda di Tehran itu. Ketika Amerika dan juga negara-negara barat yang tak pernah berani menentang Iran dengan perang terbuka seperti yang telah mereka lakukan di Iraq, saya rasa anak-anak muda inilah sasaran empuk mereka, sebuah perang baru dari barat yang lebih bersifat ideologis...
Makassar, 23 Juni 2009 - 20.40
Diposting oleh
budhie zulkifli
0
komentar
di kota ini
Minggu siang ini sedikit lengang, belum ada yang lumayan menarik untuk ditawar di meja producer, supaya bisa lolos dirundown program berita, misalnya yang menyangkut dengan hajat hidup orang banyak. Sejak malam hingga jelang sore ini, yang ramai adalah perang antar kelompok warga disejumlah sudut kota.
Tawuran lagi, sudah tentu ada batu, busur dan juga badik yang menghunus. Dan saya tak ingin menceritakan kabar seperti ini lagi kepadamu, apalagi setelah kau bertanya : "apa yang membuatmu betah tinggal di kota yang selalu ramai dengan keributan warga?".
Kota ini tak seburuk yang engkau lihat di televisi. Saat pertama kali saya menjejakkan kaki disini, dengan setumpuk pakaian, dan berlembar-lembar foto copy ijazah SMA, sayapun berpikir sama denganmu, tentang banyak hal yang mesti saya cemaskan bila ingin menyambung nasib di kota ini. Tapi waktu kemudian membuat saya belajar banyak hal, juga memahami banyak hal, yang menurutku hanya akan kau mengerti bila kau tinggal disini.
Dulu 11 tahun yang lalu, saat pertama kali saya tiba disini, seseorang pernah bilang seperti ini : " ...tak perlu terlalu cemas,seperti inilah kami, disini kami membangun persaudaraan abadi dengan cinta dan juga sedikit keras kepala.... "
Makassar, 21 Juni 2009 - 17.00
[...radio polisi di sudut ruangan itu masih berteriak, minta perkuatan personil, tawuran antar kelompok pemuda di kawasan Rappocini yang berlasung dini hari tadi kembali pecah...]
Diposting oleh
budhie zulkifli
0
komentar
kereta malam
Sebentar lagi kereta malam Sancaka ini, akan membawaku pulang ke kotamu. Dan seperti saat pertama kali menemuimu, saya masih saja tak punya cukup nyali untuk menatap lekat-lekat kedua mata indahmu.
Kau tak perlu menjemputku kali ini, istirahatlah, sebab besok masih banyak janji yang harus kita selesaikan, juga banyak kisah yang ingin saya ceritakan...
Kereta malam Sancaka Jogja-Surabaya, 13 Juni 2009 - 19.30
Diposting oleh
budhie zulkifli
0
komentar




