brownies...

Beberapa waktu lalu, seorang sahabat mengirimkan saya email, sebuah cerita, tentang cinta seorang Sir Thomas Stanford Raffles, seorang letnan gubernur Inggris di Pulau Jawa (1811-1816), yang mendirikan monumen kenangan bagi istrinya Lady Olivia Marianne, yang meninggal pada tahun 1814 di Kebun Raya Bogor. Ada bagian yang paling saya suka dari kisah itu...:

"........Saya hanya bisa merasakan sebegitu besarnya cinta Raffles pada perempuan itu. Barangkali cinta memang butuh aktualitas atau jejak material. Barangkali cinta butuh monumen untuk kelak diawetkan dan tak lekang oleh waktu. Saya bisa memahami kenapa ia tak menuliskan secara detail tentang cintanya pada Olivia. Mungkin ia sengaja tidak menuliskan secara utuh, tentang sejauh mana gejolak cintanya.......

........Kalaupun cinta dikisahkan, apakah kata-kata akan sanggup merangkum semua dimensi rasa yang indah dalam diri seseorang?. Saya kira tidak. Kata-kata itu terlalu miskin untuk mengisahkan cinta. Pada titik ini saya mulai mengerti, barangkali Raffles berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang sangat personal, sesuatu yang hanya bisa dimaknai secara pribadi. Bagi Raffles, cinta hanya untuk dikenang, bukan untuk dikisahkan......".

*****

Belakangan ini, orang-orang selalu memintaku bercerita tentang kenangan, kata mereka, " ceritakanlah...sekalipun ia tak utuh, meski ia hanyalah sepotong kenangan...". Bagi mereka, sepotong kenangan itu seperti brownies, selalu lezat, meski saat disajikan hanya dalam sebuah potongan kecil. Saya boleh sependapat dengan itu, hanya saja, saya sedang tak ingin membahasnya. Tentang kenangan, seberapa baik ataupun buruknya ia, biarkan saja ia menjelma menjadi doa-doa kebaikan.....

Makassar, 16 Februari 2009 - 12:00

3 comments:

anak pasar said...

mengapa Kenangan lezat, bro? karena kita selalu sadar bahwa kita fana.. dan hanya dgn sisa-sisa ingatan kita bisa memaknai apa yg tlah berlalu...

Yusran Darmawan said...

bro... kenapa nda tulis namaku sbg orang yang mengisahkan cerita raffles itu?

budhie said...

wah..iya bro, maaf...saya hanya menulis soal seorang sahabat yg mengirimkan email tentang kisah itu...sahabat yg saya maksudkan adalah Oom Yusran...:),
saya suka dengan kisah Oom itu, saya kutip dua paragrafnya...sangat inspiratif bagi saya.....