sepotong poster bintang kejora

Agak bingung juga, dari mana sebaiknya memulai cerita tentang kota ini. Dulunya saat pemerintah Hindia Belanda masih bercokol, orang-orang menyebut kota pantai ini sebagai Hollandia, lalu kemudian berganti nama menjadi Sukarnopura saat gelora revolusi 45 menyesak kesetiap sudut nusantara. Kota ini juga pernah disebut sebagai Port Numbay, yang kemudian menjadi Jayapura hingga saat ini.
Dua bulan liputan Pilkada Papua dan kasus bentrok yang menewaskan 5 petugas keamanan di Abepura Jayapura, menyisakan banyak hal yang mengendap dalam memori. Tanah Papua, sebuah wilayah subur yang penuh gelora. Menurutku ada “sesuatu” di Papua yang terus bergerak, seperti borok yang kelak meletus dan mengoyak pori-pori.
Di Kompleks Perumahan Dosen Universitas Cenderawasih, kami menemui seorang pria asli Papua, seorang mantan tahanan politik yang pernah mendekam di penjara selama 16 tahun karena dianggap telah melakukan tindakan makar yang membahayakan eksistensi NKRI. Dia berbicara tentang keinginan rakyat Papua untuk merdeka, memisahkan diri dari Indonesia. Menurutnya hingga saat ini kemerdekaan yang hakiki bagi seluruh rakyat di Bumi Cenderawsih adalah sesuatu yang harus terus di perjuangkan.
Kami mewawancarainya dengan sepotong poster perjalanan para pencari suaka dari Papua ke Australia, lengkap dengan gambar bendera Bintang Kejora ditanganya. Suaranya sedikit bergetar dalam wawancara khusus yang singkat itu. Sejujurnya aku sedikit khawatir, pria ini akan segera di tahan setelah tanyangan wawancara ini dimuat. Tapi kantor rupanya tak mau menayangkan liputan itu. Entah, aku harus kecewa atau apa, tapi mungkin saja semua ini ada baiknya juga.
Di Jayapura, mulai dari pusat-pusat perbelanjaan hingga ke pertokoan-pertokoan di sepanjang kota lebih banyak di isi oleh para pendatang yang berseliweran di dalamnya. Di pasar tradisonal, para penduduk asli boleh sedikit ramai ditemui, tapi warung-warung makan dan kios-kios pakaian dan sembako masih tetap di dominasi oleh para pendatang. Lepas dari fakta bahwa masyarakat asli memang telah kalah dalam sebuah pertarungan ekonomi yang benar-benar fair, tapi aroma kesenjangan social dan ekonomi antara pribumi Papua dan kaum pendatang jelas begitu terasa disana.
Aku rasa, pemerintah harus lebih arif dalam melihat tanah dan juga rakyat Papua. Ada dosa masa lalu yang mungkin secepatnya harus dibenahi….jika kita benar-benar tidak ingin kehilangan sejengkal tanah untuk yang kedua kalinya.


Makassar, 9 April 2006 – 17 : 02 Wita

1 comment:

Annissa said...

Thanks for writing this.