kereta malam

Sebentar lagi kereta malam Sancaka ini, akan membawaku pulang ke kotamu. Dan seperti saat pertama kali menemuimu, saya masih saja tak punya cukup nyali untuk menatap lekat-lekat kedua mata indahmu.
Kau tak perlu menjemputku kali ini, istirahatlah, sebab besok masih banyak janji yang harus kita selesaikan, juga banyak kisah yang ingin saya ceritakan...

Kereta malam Sancaka Jogja-Surabaya, 13 Juni 2009 - 19.30

para pejalan

Sore itu, seorang laki-laki tua penjual kue keliling menurunkan pikulan dagangannya, diteras sebuah mesjid kecil dekat jalan pahlawan. Laki-laki tua itu sama seperti saya, kami adalah para pejalan kelelahan yang singgah beristirahat, juga sekaligus memenuhi panggilan sang pemilik kehidupan.
Tapi perbedaan paling mecolok dari saya dan laki-laki tua itu adalah, saya yang akhirnya terdampar di salah satu sudut kota buaya dan hiu ini, sebagai bagian dari niat menyusuri bumi Allah lainnya, yang dulu hanya bisa saya liat pada peta. Juga sebuah perjalanan untuk mencari sesuatu yang saya sebut sebagai pertanda bagi takdir saya sendiri. Perjalanan yang akhirnya bisa saya lakukan setelah saya merasa sedikit lapang untuk menjalani petualangan sederhana seperti ini. Sementa ia singgah karena kelelahan menyambung nasib sebagai penjual kue keliling.
Usai sholat ashar, laki-laki tua itu merebahkan diri di teras mesjid. Saya menawarkan sebatang rokok, dan ia menolaknya dengan santun. Sudah pasti ia kelelahan menyusuri sudut-sudut kota, mengikuti jalan takdirnya sebagai penjual kue keliling. Saya melihat kue-kue dagangannya belum juga habis, masih tersisa, dan saya membayangkan ada sejumlah orang yang menantinya pulang sore ini dengan uang jualan kue yang tak seberapa itu.
Saya menunduk hormat padanya, saya belajar tentang bagaimana seharusnya menjadi orang yang tak pernah putus bersyukur atas apa yang telah dimiliki, sesederhana apapun itu. Langit-langit kota ini mulai diselumuti cahaya senja yang jingga, saya akhirnya meninggalkan laki-laki tua itu tertidur lelah di teras mesjid.
Seperti kemarin, saya selalu bahagia melihat senja disini,karena saya tahu sebentar lagi kau akan pulang. Saya memilih jalan kaki saja. Saya akan menunggumu di tempat biasa, dimana kita selalu menundukkan kepala dalam-dalam, berdoa untuk potongan-potongan mimpi yang kita kumpul setiap hari.

Surabaya, 10 Juni 2009 - 18.00

manohara

Ia berpidato di televisi pagi ini, sebagai pemimpin tertinggi di negeri berpenduduk 200 juta, barangkali ia berpikir perlu angkat bicara tentang kasus penyiksaan model cantik asal Indonesia, Manohara Odelia Pinot, oleh mantan suaminya, seorang pangeran dari negera bagaian Kelantan Malaysia.
Sebentar lagi pemilihan presiden, tapi saya tak ingin mencurigai niat baiknya berkomentar tentang Manohara, mungkin saja ia berbicara atas nama harga diri kebangsaan yang sudah terlalu sering dilecehkan oleh negara tetangga itu. Apalagi kasus Manohara sedang ramai menjadi perhatian publik, dan media di Indonesia memberikan porsi yang lumayan istimewa tentang Manohara.
Pagi ini, saya teringat dengan ribuan perempuan TKI yang tengah mengadu nasib di Malaysia. Banyak diantara mereka yang mengalami perlakuan sangat sadis dari majikannya, lalu pulang dalam kondisi cacat atau dengan gangguan mental akibat trauma. Bahkan tak sedikit yang akhirnya pulang ke tanah air dalam keadaan terbungkus dalam peti mati.
Mereka bukan siapa-siapa, hanya perempuan-perempuan biasa yang nekat merantau demi kepulan asap dapur di kampung halaman. Kalaupun mereka dianiaya di perantauan, kepulangan mereka-pun nyaris tidak terdengar, tidak disambut dengan serangkain konferensi pers dan kilatan lampu para wartawan infotaiment. Juga tentunya dengan pidato khusus dari istana kepresidenan...

Makassar, 3 Juni 2009 - 07.00