budi : Hallo..apa saya bicara dengan *****
**** : iya, benar..maaf siapa ya?? (seperti suara orang baru bangun tidur)
budi : ini dengan budi..hmm..sory dengar2 mau married ya? kok gak ngundang?
**** : bukan mau married bud..tapi sudah married..!!
budi : ...###@@@****???////...glekkk..., oya ??
**** : iya, soalnya gak ditahu dimana rimbanya, jadi gak ngundang....
budi : ouuhh..iya..iya...maaf-maaf, sudah dulu ya...(telpon diputus)
**** : ...!!???
wadoohhh..jadi malu..hehehe...sudahlah..jangan dilanjutkan lagi...
hanya sepenggal kisah masa lalu...cukup saya, dia, dan Tuhan saja yang tahu...hehe..
Makassar, 06 Agustus 2008 - 19:50
dari balik terali
Melihat mereka berlima berdiri dari balik terali. Saya hanya tertegun, tak bisa berkata apa-apa. Saya sakit hati, juga dendam kepada Jenderal Polisi itu. Sungguh, ini tidak adil, tidak sebanding antara apa yang telah mereka lakukan, dengan konsekuensi yang mereka terima saat ini.Saya juga sedih, benar-benar sedih, melihat bocah yang usianya belum cukup dua tahun itu, memanggil-manggil Ayah, pada setiap pengendara motor yang melintas di depan rumahnya sore itu. Pada malam sebelumnya, di depan kantor polisi, saya juga melihatnya menangis, dalam dekapan ibunya. Sementara Ibu si bocah, dengan mata yang selalu basah, Ia terlihat seperti memeluk nasib yang berhembus dingin bersama angin malam….
Makassar, 26 Juli 2008 – 12:00 wita
“untuk sahabat-sahabatku dibalik terali, moga selalu sabar, semuanya pasti ada jalan keluarnya. Terkadang, Allah mencintai kita dengan cara yang tidak kita mengerti…”
ruang waktu
entahlah, pada ruang dan waktu seperti apa saya berdiri..tapi bila gundah itu mulai mendera, saya hanya ingin terlelap lebih cepat. sebab gelap terkadang bisa menelan sedikit dari semua beban...saya benar-benar ingin berdamai dengan semuanya, biar jalan ini terasa lebih lapang untuk dilewati....
Makassar, 25 Juli 2008 - 15:50 wita
Makassar, 25 Juli 2008 - 15:50 wita
Subscribe to:
Posts (Atom)