dari balik terali

Melihat mereka berlima berdiri dari balik terali. Saya hanya tertegun, tak bisa berkata apa-apa. Saya sakit hati, juga dendam kepada Jenderal Polisi itu. Sungguh, ini tidak adil, tidak sebanding antara apa yang telah mereka lakukan, dengan konsekuensi yang mereka terima saat ini.
Saya juga sedih, benar-benar sedih, melihat bocah yang usianya belum cukup dua tahun itu, memanggil-manggil Ayah, pada setiap pengendara motor yang melintas di depan rumahnya sore itu. Pada malam sebelumnya, di depan kantor polisi, saya juga melihatnya menangis, dalam dekapan ibunya. Sementara Ibu si bocah, dengan mata yang selalu basah, Ia terlihat seperti memeluk nasib yang berhembus dingin bersama angin malam….

Makassar, 26 Juli 2008 – 12:00 wita

“untuk sahabat-sahabatku dibalik terali, moga selalu sabar, semuanya pasti ada jalan keluarnya. Terkadang, Allah mencintai kita dengan cara yang tidak kita mengerti…”

2 comments:

mata air said...

Bro,om corleone slalu ingatkan qt, dendam itu smakin basi, smakin terasa nikmat.

Sartika Nasmar said...

Kak, kemarin waktu ke Surabaya naik kereta. Sama2 ka duduk dengan Polisi. Dia bilang gini: "Wartawan tu kalau liputan jangan ambil buruk-buruknya aparat. Soalnya kalau mereka ngancam, tidak pernah main-main."

Turut sedih mendengar kabar ini...

Salam hangat,
Tika