terima kasih

Kemarin anak-anak dikantor ramai perang petasan, tak lama setelah buka puasa dan sholat magrib.Seisi kantor riuh dengan ledakan-ledakan kecil dan suara tawa anak-anak, kami semuanya tak terkecuali,mulai dari pak Edy security kantor, para kontributor,Ary Cina, Praka Idul, Chali, Uceng,Upi, Saya, dan juga mas Kabul.
Perang-perangan ini bahkan merambat sampai dijalanan depan kantor, tidak jelas yang mana kawan yang mana lawan, yang ada hanya saling menyerang dan melempar petasan. Paling lucu saat Chali dan Upi kulihat jatuh dengan tragisnya, berguling didepan pagar karena bertabrakan saat lari menghindari ledakan petasan..hehehe….
Kadang kami memang seperti ini, disela-sela penatnya liputan dan tekanan deadline yang menghimpit, hal-hal konyol seperti ini selalu menjadi hiburan pelepas ketegangan. Dan dikantor ini juga, pada waktu-waktu tertentu kami menjadi seperti prajurit yang selalu siap dan patuh pada perintah, seberapa berat sekalipun sebuah misi yang harus dituntaskan. Tapi pada saat-saat tertentu pula, kami tak ubahnya sekumpulan anak-anak yang melepaskan kegembiraannya dengan permainan-permainan.
Barangkali,hal seperti inilah yang selalu membuat kantor ini tidak menjadi hanya sekedar kantor, tapi juga selalu menjadi seperti rumah, menjadi sebuah tempat dimana kami akan selalu rindu untuk kembali pulang.....barangkali, ini juga yang membuatku merasa seperti memiliki sebuah keluarga kecil, like my second home.....saya bahagia, tapi juga sedih, barangkali karena kebersamaan saya di keluarga kecil Metro TV Biro Makassar ini hanya tinggal menghitung hari...

*****

Surat pengunduran diriku secara resmi telah diterima para petinggi di Jakarta, mereka sempat menyatakan ketidak relaannya dengan pengunduran diriku, tapi juga tidak tahu harus menahanku dengan cara apa. Sudah keputusanku untuk hijrah ke stasiun TV yang lain. Bukan sesuatu yang tergesa-gesa, untuk sampai pada keputusan ini, saya telah mempertimbangkan secara masak-masak, melalui sebuah masa perenungan yang cukup panjang.
Saya pindah, bukan karena kecewa dengan Metro TV, sama sekali tidak, justru sebaliknya saya banyak belajar dan mendapatkan kesempatan untuk berkembang hingga menjadi seperti sekarang ini. Bagaimanapun juga Metro TV, dalam tiga tahun terakhir ini telah menitipkan banyak kebanggaan bagi saya. Hanya saja, lepas dari semua itu, ada kesempatan yang lebih baik bagi saya untuk mencoba sebuah tantangan baru.
Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang setulus-tulusnya, dan memberi penghargaan yang setinggi-tingginya, kepada semua sahabat dan teman sekerja di Metro yang telah menjadi cahaya dari setiap proses saya menjadi seorang jurnalis yang lebih baik, terutama teman-teman seperjuanganku di Biro Makassar, untuk semua keakrabannya yang menghangatkan.
Dari semuanya, ada dua nama yang abadi bagi saya, Mas Kabul dan Bang Sudirman”Brur” Mustari. Untuk setiap detik dari proses panjang yang saya jalani di Metro TV tiga tahun ini, saya ingin menyampaikan terima kasih, untuk setiap pintu yang telah dibuka, juga untuk setiap tangga yang mereka bangun untuk saya…..

Makassar, 10 Oktober 2007 – 04:00 dini hari…..

1 comment:

Esbea said...

Perang petasan???? tapi kalau cuma petasan cabe gak seru, seruan petasan meriam bambu