masa kecil

Foto-foto masa kecilku yang dikirim abang On itu mengaduk-ngaduk kenangan, ia seperti setangkai rindu yang diletakkan pagi-pagi di depan pintu hati. Kalau tak salah, Ayahlah yang mengabadikan kami berempat sore itu dengan kamera pocket andalanya. Kami berpose didekat pohon akasia. Saya, Nana, Imran dan Erlan, kami dipotret Ayah sebagai kenang-kenangan untuk Erlan dan Imran. Teman sepermainanku dan Nana, yang tinggal disebelah rumah kami itu, akan pindah bersama orang tuanya ke kota lain. Ada juga foto kami berempat berbaris rapih, didekat batang pohon jambu yang roboh diterjang angin. Saya tak ingat persis kapan foto itu diambil, yang jelas saya belum sekolah ketika itu.
Selain dua foto itu, ada foto saya memegang bola, "budi kecil..dengan bola yang lebih besar dari dirinya" mungkin itu judul yang pas untuk foto itu, atau yang tak kalah spektakuernya, ada foto dimana si budi kecil yang baru berusia beberapa bulan itu, diletakkan dengan lucunya diatas meja diruang tamu (btw, perasaan saya banyak melihat foto-foto temanku waktu bayi, hampir semuanya ada pose diletakin diatas meja..hehe...).
Foto-foto itu membuat saya terbang jauh kemasa lampau, betapa cerianya kami ketika itu. Suatu ketika saya pernah bercita-cita untuk selalu menjadi anak-anak. Saya takut tak bisa lagi menemukan keceriaan yang sama apabila nanti telah dewasa. Dunia orang dewasa adalah dunia yang rumit, dan terkadang secara sadar atapun tidak, orang dewasa kerap menyisipkan kerumitan-kerumitan itu pada dunia anak-anak. Saya beruntung, terlahir dari keluarga yang baik, tak seperti nasib tiga bocah di Tangerang baru-baru ini, yang tak berhenti menangis karena ditinggal begitu saja oleh orang tuanya, berhari-hari didalam rumah yang terkunci rapat, tanpa makanan dan minuman. Beruntung mereka diselamatkan tetangga sekitar.
Saya mencoba mengingat-ingat, semua kejadian yang ada di foto itu. Hanya ada beberapa yang benar-benar segar dalam ingatan, sebagiannya tidak sama sekali. Tapi sesungguhnya saya menemukan mozaik-mozaik kehidupanku dari foto-foto masa kecil itu. Sebagian dari mozaik-mozaik itu telah saya temukan wujudnya setelah saya dewasa. Subhanallah, betapa kenangan adalah sesuatu yang harus dijaga dalam jiwa anak-anak, karena mereka akan tumbuh dan hidup dengan kenangan masa kecilnya itu. Jangan biarkan hal-hal buruk menodai memori masa kecil mereka.

" Saya pernah membuka album foto masa kecilmu, ada foto ketika kau berpose didalam ember besar dengan wajah cemberut, barangkali saat itu kau menolak dimandikan, karena lebih suka bermain air dalam ember hehe...atau foto saat kau minum sebotol susu dengan lahapnya, tapi jari-jari kecilmu kerepotan memegang botol susu yang kebesaran..:). Tidakkah kau tahu, betapa lucu dan bahagianya kita dalam foto-foto masa kecil itu?. Mari berdoa, semoga kita bisa selalu seperti itu...:)"

Makassar, 7 Februari 2010 - 19.30 wita

kapan pulang...

Musim penghujan ini belum usai, dan saya tak bisa pulang kerumah sesering biasanya. Terlalu dingin untuk menunggangi Freddy bila hari terlampau gelap. Mending disini saja nginap, dikantor ini. Biar tak harus tergesa-gesa bangun untuk masuk shift pagi. Meski sebetulnya, bila dijumlahkan, sepertinya saya masih lebih sering nginap di kantor daripada pulang kerumah.
Kadang itu membuat saya suka berhitung-hitung, bahwa dalam 11 tahun tinggal di Makassar, 4 tahun saya menginap di kampus, 4 tahun menginap di kantor, dan 3 tahunnya itu gabungan dari berbagai tempat persinggahan lainnya yang terlampau banyak untuk di ingat. Lalu seberapa sering pulang dan tidur di rumah semata wayangku itu? rasa-rasanya bila ditotalkan maka jumlahnya belum cukup 30 hari.
Dulu, jaman kuliah, saya memang jarang pulang ke kost atau asrama, hidup nomaden, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, tergantung suasana hati. Makanya dalam tas ranselku itu, semuanya selalu ada disitu,mulai dari kemeja, sepatu (kemeja dan sepatu : untuk mata kuliah PR hehe...), buku kuliah, perlengkapan mandi, dan juga beberapa baju ganti.
Ada pepatah yang bilang "rumahku istanaku", tapi bagi saya ketika itu, "rumahku adalah tas ranselku". Tas ransel itu masih setia hingga kini, meski penuh tambalan disana-sini, ia masih tergantung rapi di dekat jendela belakang. Ransel keramat itu selalu terjaga, ia tak bisa dilupakan begitu saja. Ransel bersejarah itu telah menemaniku melewati berbagai peristiwa, juga melintasi sejumlah negara.
" nanti jadi pulang ke pak semut..?" sesekali kau bertanya seperti itu. Rumah mungil itu selalu kau sebut pak semut, karena memang banyak semut, lantaran terlalu sering ditinggal pergi. Kemarin saya pulang, dan bertemu keluarga pak semut yang membangun sarang di dekat pintu masuk.
Keluarga pak semut telah melanggar kesepakatan dan pindah kedalam, barangkali karena beberapa hari ini hujan dan badai selalu datang. Hhmm...biar semua bahagia,sepertinya harus ada nota kesepahaman baru dengan mereka. Saya akan selalu pulang ke pak semut, dan kita akan berunding dengan mereka, tak lama lagi, tentu saja setelah kau ada disini..:)

Makassar, 17 Januari 2010 - 16.15 wita

petak-petak sawah

Senang melihat beberapa petak sawah dibelakang kompleks rumah-ku itu mulai menghijau. Dulunya petak-petak sawah itu kering, tapi hujan yang tak bosan-bosan turun bulan ini, telah membawa kehidupan baru ditanah gersang itu. Ini adalah sedikit dari petak-petak sawah yang tersisa di sini, setelah hampir semuanya di jual warga pada developer perumahan, termasuk untuk pembangunan kompleks rumah tinggalku ini.
Hhmmm..sesuatu yang tragis menurutku, ketika para petani menjual sawah,lalu beramai-ramai menjadi buruh bangunan dari proyek-proyek perumahan yang semakin menjamur di daerah sini. Bagaimana bila masa pengerjaan proyek-proyek itu usai? kemana lagi para petani dengan sawah yang tergadai itu akan menambatkan biduk kehidupannya?.
Sebelum musim penghujan ini, ketika petak-petak sawah itu masih mengeras, saya kerap menemukan bongkahan-bongkahan kecil tanah yang mengotori dapur rumahku. Sepertinya anak-anak kecil dikampung belakang kerap melemparnya masuk, melalui celah pada lubang angin di tembok dapur. Barangkali mereka sedang bermain adu ketangkasan, siapa yang paling tepat melemparkan tanah melewati lubang angin itu..hehe..
Kalau sudah begitu, biasanya saya akan membersihkan dapur dari bongkahan tanah itu sambil senyum-senyum, saya hanya terkenang masa kecilku, saat melatih ketangkasan dengan menendang bola dari halaman rumah dan masuk melalui jendela kamar depan, uji ketangkasanku itu tentu saja menuai omelan orang-orang serumah..:D

******

Malam ini saya masih dikantor, belum berhasil pulang ke rumah. Ini hari terakhir di tahun 2009, tentu akan ada banyak berita diantara orang-orang yang bergegap menanti detik-detik pergantian tahun 2010.
Sayapun harus berjaga, meski sedari tadi, yang saya ingat adalah, bahwa hari ini usiamu bertambah. Saya tak ingin berhenti mendoakanmu.."semoga dipanjangkan usia jaman dalam selamat..semoga Allah selalu menjagamu..menjaga kita sampai tua dan renta, sampai nanti bila kita tiba di ujung waktu.."

Makassar, 31 Desember 2009 - 23.00 wita