ayah...ayah..ayah...

Suatu siang yang teduh di penghujung tahun 2002, di sebuah desa di pinggiran kabupaten Pangkep, teman Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin angkatan 63 yang juga sefakultas dengan saya itu bercerita dengan mata yang berbinar dan senyum yang merekah, tentang anaknya yang sudah bisa memanggilnya Papa.
Teman saya itu cepat menikah, pada masa dimana kami masih sibuk bersenang-senang dengan kebebasan  sebagai mahasiswa. Lalu saat musim KKN tiba, betapa dia sangat merindukan anaknya yang ditinggal pergi. Sedikit dari ekpresi kerinduannya itu dia bagi kepada kami dengan cerita tentang tahap demi tahap pertumbuhan anaknya, termasuk itu tadi, betapa dia bahagia ketika anaknya bisa memanggilnya Papa.
Ketika itu mendengar ia bercerita tentang anaknya bukalah hal yang menarik, biasa saja pikirku. Saya lebih suka kalau topik obrolan adalah hal-hal yang konyol disekitar lokasi KKN atau kampus, apalagi kalau topiknya tentang gadis-gadis desa versus mahasiswa KKN, yang sedang merekah di desa-desa kecamatan tempat kami ber-KKN. Obrolan tentang anak dan istri itu sesuatu yang masih sangat jauh bayangan masa depanku. Karena itu saya tak bisa meresapi kebahagiaan dan kebanggaan yang terpancar dari wajah temanku.
Pagi ini, saya terkenang dengan obrolan di penghujung tahun 2002 itu, ketika saya telah di anugerahi seorang putri yang cantik dan menggemaskan. Saya baru bisa memahami makna dari sinar mata bahagia temanku itu ketika bercerita tentang pertumbuhan anaknya. Ini cerita tentang kebahagiaan dan kebanggaan menjadi seorang ayah, meski hanya dari hal-hal yang sederhana, seperti seminggu terakhir ini, ketika Zee mulai memanggilku dengan sebutan Ayah.
Sebelum-sebelum ini Zee hanya memanggilku dengan sebutan Papa, sama saja sih artinya, tapi saya lebih suka mendengarnya memanggilku dengan sebutan ayah, lebih keren saja rasanya hehe...., awalnya saya sempat cemburu juga denganmu Bunda, karena Zee lebih dulu bisa memanggil Bunda, daripada Ayah...:)
Seminggu terakhir ini, setiap hari Zee bisa puluhan kali memanggil Ayah untuk aktivitas apa saja yang akan ia lakukan, mulai bangun tidur, turun dari tempat tidur, minta dibukakan buku si walter hingga saat saya akan menghilang dari balik pintu ketika akan berangkat kantor. Betapa saya bahagia dengan hal-hal kecil dan sederhana seperti ini.

Makassar, 25 Juli 2012- 11:26 



1 comment:

Yadi Mulyadi said...

ini budi, nah ini ayah budi.
mantap bro, lanjutkan