dalet dan seperangkat alat make-up

Satu jam lebih saya duduk dikursi “panas” ini, setelah sebelumnya menjalani ritual yang tak begitu menarik, seolah-olah udah siap diperhadapkan di depan penghulu. Sebab didepanku ada seperangkat alat make-up milik Vero yang saya tak tahu bagaimana harus menggunakannya…karena demi Tuhan, tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa saya harus berurusan dengan seperangkat perabotan lenong ini.
“ Kok..jadi kayak srimulat bud..hehe..” kata nak-anak dikantor yang tiba-tiba jadi kayak orang kesurupan melihatku. Saya nyengir aja, asem rasanya mendengar celoteh-celoteh iseng anak-anak. Tapi sebenarnya saya pusing juga, kalau dulu di Metro TV, saya terbiasa live report dari lapangan, jadi tak perlu ritual yang macam-macam, ditepoki bedak dikit udah cukup, yang penting muka berminyak ini bisa sedikit ternetralisir.
Tapi sekarang sejak di TV One, dengan format siaran studio, saya jadi kalang kabut. Apalagi disini tidak ada orang khusus yang menangani make-up, padahal setahuku di Biro Medan dan Surabaya ada orang khusus untuk urusan-urusan kayak begini
Sebenarnya meski semua kerepotan itu harus dijalani, akan bisa termaafkan, jika siaran live berlangsung aman. Tapi ini malah jadi menyebalkan, gara-gara dalet sialan. Saya hanya bisa duduk bengong kayak sapi ompong dikursi pesakitan presenter, selama satu jam lebih, hingga siaran tutup, tanpa sekalipun nongol, adalah ending yang menyebalkan.
Dalet, kabarnya adalah sebuah peralatan canggih terbaru yang hanya dipakai satu-satunya TV dimuka bumi ini, yaitu TV One. Secara teori, perangkat teknologi ini bisa membuat pekerjaan produksi berita televisi jauh lebih mudah dan cepat, sebab semuanya dilakukan langsung disini, mulai dari pengeditan, dubbing, hingga on air. Saya sendiri belum pernah melihat peralatannya seperti apa, tapi perasaan selama tujuh bulan saya bekerja disini, kenyataannya adalah… selalu saja dalet ini mermasalah..!!
Sudah terlalu sering, para presenter jadi seperti orang bego di layar televisi gara-gara paket-paket berita yang telah tersimpan di dalet tidak bisa diputar, atau terhapus dan hilang entah dimana.
Seperti malam senin kemarin, saya harus menunggu selama sejam dengan setelan jas lengkap di kursi siaran, dan endingnya tak pernah muncul-muncul biar hanya sekali. Sementara Divi dan Shinta di studio Jakarta teriak-teriak minta ampun gara-gara disuruh memperpanjang wawancara yang sebenarnya sudah terlalu panjang dan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mulai terkesan dipaksakan.
Entahlah, seberapa rumit sih peralatan canggih itu, yang dari semua stasiun TV diatas bumi ini, kabarnya hanya TV One yang menggunakannya. Hampir setahun, tapi masalahnya selalu sama…saya hanya tak mau lagi duduk bengong kayak sapi ompong seperti kemarin malam..


Makassar, 02 Juni 2008 - 16 : 30 wita

1 comment:

arsyi said...

kaka budi gak ompong kok...hehehe