pulang

Belakangan ini waktu seolah-olah menghimpit dari setiap sisi. Lalu saat penat mulai mendera, aku benar-benar ingin pulang, tapi bagaimana? Perasaan dalam delapan tahun terakhir, sejak mulai kuliah di makassar sampai detik ini, kata “pulang” seperti menjadi sesuatu yang nyaris tak terdefenisikan dengan baik. Kmar kost-itu misalnya, mestinya ia menjadi tempat “pulang” terdekatku, tapi sejak dulu, kamar itu tak lebih dari sekedar tempat penitipan barang. Sedang aku sendiri entah dimana….
Ada apa? aku juga tiba-tiba merasa kehilangan sesuatu, tapi seperti apa, …agak sulit untuk mendeskripsikannya, tapi kehilangan itu begitu terasa…
Hanya ingin pulang……terserah, kemanapun itu, pulang ke kerumah, pulang ke kost atau apalah namanya, setidaknya ada sebuah tempat untuk sejenak merebahkan badan dan menarik nafas panjang, sebuah tempat untuk sembunyi dari semuanya…….sungguh, tidak untuk menghindar, hanya sebentar, aku hanya ingin merapikan buku-buku di rak lemari, atau membenarkan letak foto-foto yang agak miring dari posisi yang seharusnya, atau hanya sekedar membersihkan kaca jendela yang mulai berdebu. Kalau boleh, aku juga ingin terlelap barang sejenak…….
Dan tentang pulang itu sendiri……, masih juga menjadi sesuatu yang jauh…hampir tiga tahun sejak ibu meninggal, padahal aku benar-benar rindu, seperti kerinduanku pada sofa coklat tua di ruang tengah itu, yang selalu ramai dengan perdebatan-perdebatan kecil kami, ya, kami berlima, almarhumah ibu, dan tentunya ayah, yang kerap menempatkan diri sebagai pemateri tunggal dalam obrolan kecil kami seusai makan malam…,
Ah.., rasanya sudah lama sekali, aku rindu, seperti kerinduanku pada foto di dinding kamar itu, kita berlima dengan seragam sekolah masing-masing. Aku selalu mengingat pagi itu, saat ayah mengabadikan kita lewat foto itu, sesaat sebelum berangkat sekolah
Kata ayah, sekarang ini suasana diruang tengah itu terkadang sangat sepi…, ya, aku tahu tentang itu. sebab selain si bungsu Nana, yang lainnya telah berkeluarga dan tinggal terpisah. Itupun Nana terlampau sibuk dengan pekerjaannya. Sepi tentunya bagi ayah, apalagi sepeninggal ibu, semuanya menjadi benar-benar berbeda… Semuanya hanya menjadi ramai kembali bila ponakan-ponakan kecilku yang lucu-lucu itu datang dan mengacak-ngacak ruang tengah itu…

Makassar, 26 Maret 2007

2 comments:

pasarcidu said...

pulanglah sesekali. agar bisa kau takar arti kepergianmu. anak lelaki memang suatu waktu harus pulang, sebelum kembali mengemasi perjalan yang masih tersisa

Anonymous said...

qt memang sesekali harus pulang, bro.tapi jangan pernah berpikir tuk menetap.karena qt terlahir tuk terus melangkah.dan brhenti berarti MATI!