batu rube

Jangan membuka mata terlalu lama, sebab seisi ruangan KRI Lambung Mangkurat yang bergerak naik turun itu akan membuatku semakin mual. Kata seorang anak buah kapal, ombak diluar mencapai ketinggian 3-4 meter, padahal kapal ini baru saja meninggalkan pelabuhan Kolonodale Morewali, dan masih sekitar 5 jam lagi untuk sampai di Batu Rube. Sementara saya, harus bisa terus bertahan dengan posisi seperti ini, duduk disofa dengan kaki terjulur diantara tumpukan barang, sambil terus memejamkan mata, biar tidak terlalu pusing dan mual. Kulihat mas Bowo, cameraperson Jakarta itu, juga melakukan hal yang sama, berupaya lelap meski sama sekali tidak mengantuk.
Rasanya lelah sekali, setelah sepuluh jam perjalanan darat dari Palu ke Kolonodale, kini masih terombang ambing dengan perut keroncongan. Kami tidak sempat cari makan saat tiba sore tadi di Kolonodale, gara-gara mengejar KRI Lambung Mangkurat yang akan segera berangkat. Sedikit khawatir juga, kalau maag ini kambuh lagi, sudah cukup di rasanya diopname 5 hari gara-gara sakit maag beberapa bulan yang lalu.
Sekitar pukul 10 malam kami tiba di perairan Batu Rube, nyaris tidak ada yang bisa terlihat di daratan, benar-benar gelap gulita. Persoalan lainnya adalah kapal-kapal besar seperti KRI tidak bisa merapat ke dermaga karena laut yang dangkal. Kami harus menunggu lagi, dan akhirnya baru bisa merapat ke daratan Batu Rube sekitar pukul 2 dini hari, setelah perahu-perahu kecil datang menjemput bantuan logistik dan relawan yang ikut bersama KRI Lambung Mangkurat.
Malam itu, suasana Batu Rube seperti perkampungan mati, gelap gulita, menurut warga listrik hanya menyala dari pukul 19:00-24:00, tapi sejak musibah banjir bandang dang longsor yang melanda daerah ini, sudah hampir sepekan, listrik di Batu Rube mati total akibat gardu PLN ikut terendam banjir Lumpur.

*****
Menuju ke Desa Boba, salah satu dari belasan desa terisolir dengan kerusakan yang cukup parah. Perjalanan ditempuh dengan speedboat, lalu dilanjutkan dengan 2 km jalan kaki melintasi rawa-rawa hutan bakau, lumayan bikin lecet kaki.
Desa berpenduduk sekitar 400 KK itu benar-benar sepi ditinggal warganya. Hampir separuh bagian desa hancur akibat terjangan banjir bandang dan tanah longsor. Ada sebuah sekolah dengan atap yang telah menyatu dengan tanah, disekitar sekolah yang kini menjadi hamparan tanah lapang berlumpur itu, dahulunya banyak sekali berdiri rumah-rumah warga, namun kini hilang tersapu banjir atau tertimbun longsor.
Bersama sejumlah personil Yonif 714 Sintuwu Maroso, kami sempat mengevakuasi 2 jenazah warga Boba yang tewas tertimbun longsor. Juga sempat mengevakuasi sejumlah pengungsi suku Wana yang lari meninggalkan rumah-rumah mereka di kawasan pegunungan setempat, salah satu diantara mereka dalam kondisi luka parah karena tidak mendapatkan perawatan medis selama seminggu.
Rasanya bencana di negeri ini datang tak putus-putusnya, barangkali kita harus lebih banyak menundukkan kepala. Seminggu liputan bencana di Batu Rube, saya kerap berpikir tentang orang-orang di desa-desa yang dilanda bencana di kawasan ini. Bagimana mereka harus menyusun lagi satu demi satu bangunan kehhidupannya, setelah semua yang diperjuangkan puluhan tahun lamanya tiba-tiba hilang, tak cukup dalam semalam.
Ah, keadilan dan kesejahteraan memang bukan milik orang-orang desa. Orang-orang kota merampok hutan dan merusak alam, lalu kedamaian kecil di desa-desa terpencil yang penuh kearifan ini musnah dalam sekejap.

Makassar, 4 Agustus 2007 – 19 : 20 wita

masa depan


Jika saja kita bisa membaca rahasia masa depan, barangkali tak ada yang harus dicemaskan. Sebab semuanya akan selalu dipersiapkan dengan baik, diantisipasi sedini mungkin. Tapi masa depan akan selalu menjadi rahasia abadi, sebab hidup bukanlah sebuah garis lurus yang sederhana…..
Aku pernah berpikir untuk tidak pernah menjadi dewasa, sebab ada semacam ketakutan, bahwa menjadi dewasa akan membuat hidup semakin keras dan rumit. Dan rasanya akan sangat bahagia jika selalu “menjadi anak-anak yang abadi”…
Jadi teringat masa-masa kecil dulu, rasanya begitu bebas, kami bermain apa saja, kemudian pulang kerumah dengat penat yang membungkus, lalu lelap dalam tidur untuk kemudian menyambut pagi yang benar-benar baru. Ketika itu, rasa-rasanya tak ada yang perlu dicemaskan…sebab bagi anak-anak seperti kami, bermain dan bergembira adalah tugas kami, masalah-masalah yang lain adalah urusan orang-orang dewasa. Segala kerumitan hidup adalah tugas dan tanggungjawab orang-orang dewasa….tugas kami adalah membuat masa kanak-kanak kami menjadi kenangan indah yang abadi…

*****
Belakangan ini hidup seperti bergerak tanpa kendali, kadang terlalu liar, seperti sampah yang terseret arus sungai, tak punya pilihan, selain pasrah mengikuti aliran air. Lalu pada saat-saat seperti ini, terkadang kecemasan itu datang mendera.
Tapi sudahlah, hidup bukanlah sesuatu yang harus selalu dicemaskan, tapi sebaliknya diperjuangkan dengan penuh keyakinan. Kecemasan hanya membuat masa depan tidak menyisakan harapan apa-apa. Padahal harapan-harapan atau cita-cita itulah yang mebuat manusia bisa bertahan melalui setiap krisis.
Sudah, setidanya saya merasa sudah lebih dari cukup dengan semua yang dimiliki saat ini. Secara materi barangkali tidak, tapi dalam tiga tahun terakhir ini, pekerjaan ini membawaku pada banyak peristiwa yang terus mengasah nurani….bahwa hidup adalah sesuatu yang harus lebih dihargai, dihormati, dan menjadikannya sesuatu yang jauh lebih berarti….

Makassar, 19 Juli 2007 – 09 : 50 wita

benang raja

Siang yang mendung, dipelataran gereja Maranatha Ambon, Kanjoly Jacky, bersama beberapa orang lainnya bercerita tentang riwayat RMS di tanah Maluku. Sahabat lama Alex Manuputty ini berujar, RMS dan juga Alex Manuputty, yang disebut-sebut para simpatisan RMS sebagai Paduka Raja tersebut sama sekali tidak punya pijakan yang kuat di bumi manise tersebut. Berbeda dengan gerakan separatis di Aceh dan Papua yang jauh lebih kuat struktur dan lobi politik internasionalnya. RMS sama sekali bukan apa-apa, hanya kendaraan rapuh para petualang-petualang politik asal Maluku di luar negeri untuk mencari simpati internasional agar mendapat suaka politik, dan terselamatkan dari status sebagai imigran gelap.
“para aktivis RMS yang melarikan diri di Belanda dan Amerika itu, mereka terpecah-pecah dan terbagi dalam ratusan faksi yang saling berseberang, tidak solid, dan tidak punya basis pendukung yang jelas. Bahkan terkadang mereka hanya datang dan berfoto didepan gedung PBB, lalu mengirim foto tersebut ke Indonesia sebagai bukti bahwa mereka telah berjuang” Ujar Jacky dengan dialek Ambonnya yang khas.
Perbincangan siang itu, sedikit memberi prespektif yang berbeda bagi saya dalam melihat gerakan separatis RMS di Maluku, semuanya tidak hanya berakar pada sejarah masa lalu, pada periode pasca perang kemerdekaan. Tapi juga terus berakumulasi, dan bahkan bermetamorfosis seiring dengan dinamika politik yang bergerak keras, apalagi ketika kerusuhan social bernuansa SARA pecah beberapa tahun silam, telah memantik api gerakan separatis tersebut menyala kembali. Termasuk didalamnya fakta tersembunyi tentang sebuah “proyek terselubung” yang sengaja dirancang sekelompok orang untuk meraup untung dari derasnya aliran dana pemulihan keamanan dan proyek rekonsiliasi social.
Kota ini telah banyak berubah, sejak terakhir kali saya singgah pada 1997 silam. Sepanjang perjalanan dari bandara Pattimura menuju kota Ambon, melihat sisa-sisa bangunan yang terbakar membuat saya sedikit mencoba membayangkan situasi antara tahun 1999-2000 itu. Kenangan hitam itu jelas masih sangat membekas pada setiap penduduk kota, tapi seiring waktu, satu demi satu setiap sisi kehidupan mulai mereka susun kembali, mencoba mencari ritme dan denyut nadi kehidupan yang pernah hilang.
Dari beberapa perbincangan dengan sejumlah orang, baik itu komunitas islam maupun Kristen, masyarakat di Ambon sedikit banyak telah belajar dari pengalaman kelam masa lalu. Terutama bagaimana membangun komunikasi antara mereka untuk meredam prasangka dan juga upaya-upaya adu domba…

****

Sebelum peristiwa memalukan itu, pada sebuah pagi gerimis dipenghujung Juni. Di pelosok pulau Haruku, Maluku. Anak-anak muda desa Aboru itu mulai berkemas, dengan parang dan salawako, sebab beberapa hari sebelumnya telah tersiar kabar bahwa sang Paduka Raja Alex Manuputty dengan sebuah kapal putih, bersama John Howard dan Gerge W Bush telah menepi di semenanjung Maluku. Hari kemerdekaan telah di depan mata, maka tarian cakalele pun dipentaskan oleh anak-anak muda Aboru, dan benang raja dibentangkan sebagai penyambutan..!!,

Makassar, 10 Juli 2007 – 19 : 30 wita